h1

SEBUAH RENUNGAN BUAT KITA

December 26, 2008

dari milis tetangga


25 tahun yang lalu,

Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan  Kania harus
tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil.  Wali kami pun wali
hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai.  Tanpa sungkem dan
tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat.  Tapi aku
masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi.
Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami
sederhana, ingin hidup bahagia.

22 tahun yang lalu,

Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku.  Ya,
keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan.
Seorang putri, kunamai ia Kamila.  Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna,
maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna.  Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan
aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua
Kania tak mau menerima kami.  Ya sudahlah.  Aku tak berhak untuk memaksa dan aku
tidak membenci mereka.  Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan
berubah.

19 tahun yang lalu,

Kamila ku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat
atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
“Horeee, Iya bisa terbang”.  Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya.  Kembang
senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.  Dan Kania tak jarang
berteriak,”Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca.
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah.  Waktu dia melompat dari tempat tidur ke
lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental.  Dan dia cuma bilang “Kenapa semua
kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”

18 tahun yang lalu,

Hari ini Kamila ulang tahun.  Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar
bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi ja di pemain bola seperti
yang sering diucapkannya.
“Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia
menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola..
Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore.  Dan seperti yang sudah
kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu.
“Horee, Iya jadi pemain bola.”

17 Tahun yang lalu

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja.
Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana
Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.  Yang aku tahu,
hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari sekolah.  Kulihat anakku
sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin
ketengah jalan.
Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan
“Iyaaaa”.  Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku.  Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi.  Ya
Tuhan, bagaimana ini.  Bayang-bayang yang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki,
bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke
rumah konsumen.  Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu
tak belikan ia bola!”

15 tahun yang lalu,

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan.  Uang pesangon habis untuk ke rumah
sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur.
Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak.  Aku hanya bisa
membelainya.  Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.
Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu
Kania ia hendak mencari ke luar negeri.  Dia ingin penghasilan yang lebih besar
untuk mencukupi kebutuhan Kamila.  Diizinkan atau tidak diizinkan dia a kan tetap
pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.

13 tahun yang lalu,

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya
setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi.  Aku harus mempersiapkan uang untuk
Kamila masuk SMP.  Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.  Dengan
segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. aku bekerja
serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.  Aku
miris, menghadapi kenyataan.  Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia
ingin menikmati dunianya.  Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan.
Tapi aku harus kuat.  Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu,

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.  Dan Kamila hanya sanggup
berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan
hinaan teman sebayanya.  Anakku cantik, seperti ibunya. “Biar cantik kalo kere ya
kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar.  Tapi anakku memang sabar
dia tidak marah walau tak urung menangis juga. “Sabar ya, Nak!” hiburku. “Pak, Iya
pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku.  Dan aku menangis.
Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku.
Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku,
ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku.  Dia tidak pernah
menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu,

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku.
Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku
sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya.  Dan itu pula yang mem buat aku
takut.  Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia.  Sulit baginya
mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.  Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi.  Dia bilang aku sudah tua, tenagaku habis dan dia ingin agar aku
beristirahat.  Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal.
Setelah itu dia akan pulang,
menemaniku kembali  dan membuka usaha kecil-kecilan.  Seperti waktu lalu, kali ini
pun aku tak kuasa untuk menghalanginya.  Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik
saja.

4 tahun lalu,

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang.  Hampir tiga tahun dia di sana.  Dia
bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya.
Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk.
Matanya tak pernah siratkan sinar baik.  Dia juga dikenal suka perempuan.  Dan
nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat.  Dia bilang dia sudah ingin pulang.
Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.  Lebaran tahun ini dia akan berhenti
bekerja.  Itu yang kubaca dari suratnya.  Aku senang mengetahui itu dan selalu
menunggu hingga masa itu tiba.
Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan
untuk salat tahajjud.  Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap
bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib
berbunyi.  Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku.  Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu,

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya
anakku ditahan.  Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami
majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini.
Aku menangis, aku tak percaya.  Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh.
Lagipula kenapa dia harus membunuh.  Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk
menyelamatkan anakku dari maut.  Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku
selesai.  Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis.  Aku hanya bisa memohon agar
anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu,

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.  Dan dia
harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya.  Aku tidak bisa
apa-apa selain menangis sejadinya.  Andai aku tak izinkan dia pergi
apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola
apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.
wahai Allah kuatkan aku.  Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia.
Anakku ingin aku ada di sisinya di saat terakhirnya.  Lihatlah, dia
kurus sekali.  Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa
daya kakiku tak ada.  Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke
arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
“Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi.  Andai bisa
ditukar, aku ingin menggantikannya. “Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”
“Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak.  Iya tidak mau. Iya
dipukulnya.  Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati.
Iya tidak salah kan, Pak!” Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku.
Masa mudanya hilang begitu saja.  Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu
menuntut agar anakku dihukum mati.  Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.
Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak
mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada
wanita itu.

2 tahun yang lalu,

Hari ini, anakku akan dihukum gantung.  Dan wanita itu akan hadir melihatnya.  Aku
mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku.  Tapi aku tak
ingin melihatnya.  Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu
membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung.  Aku tak
bisa lagi menangis.
Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah
kaki menuju jenazah anakku.  Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.  Aku
mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis
wajah yang kukenal. “Kania?”
“Mas Har, kau . !”
“Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
“Iya? Dia..dia . Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
“Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
“Tidak … tidaaak … ” Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku
itu sambil menjerit histeris.. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan
secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang
gantungan.  Bunyinya “Terima kasih Mama.”
Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu,

Sejak saat itu istriku gila.  Tapi apakah dia masih istriku.  Yang aku tahu, aku
belum pernah menceraikannya.  Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri.  Dia
ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.  Kata pembantu yang mengantarkan
jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.”
Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku.  Mungkin orang tua kita memang
benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak
kita.
Benarkah begitu Iya sayang?

Advertisements
h1

Dosa Lisan

December 26, 2008

Allah SWT berfirman dalam Alquran, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS Al-Qalam: 10-11)
Ayat di atas menjelaskan dua jenis dosa yang disebabkan oleh lisan, yaitu sumpah palsu dan mengadu domba. Akibat yang ditimbulkan oleh sumpah palsu dan adu domba sangat besar. Sumpah palsu menyebabkan kebenaran tertutupi. Dalam hal yang berhubungan dengan pengadilan, sumpah palsu mengakibatkan hilangnya keadilan bagi seseorang, demikian pula kemerdekaannya. Sedangkan akibat adu domba adalah terputusnya silaturrahim antara dua orang dan muncul rasa sakit hati di antara keduanya. Lebih buruk lagi jika sakit hati itu turun temurun dan berlanjut sampai pada keturunan mereka.
Rasulullah SAW mengkategorikan sumpah palsu sebagai dosa besar, disejajarkan dengan dosa-dosa besar lain yang secara lahiriyah sangat tampak kemadharatannya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, suatu ketika Rasulullah SAW ditanya tentang dosa besar. Maka beliau menjawab, “Yang termasuk dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, menghilangkan nyawa orang lain bukan dalam hal yang dibenarkan agama, dan sumpah palsu.” (HR Bukhari)
Mengenai adu domba, dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas ra., disebutkan bahwa pernah suatu hari Rasulullah SAW melewati sebuah kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di dalam kuburnya. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Dua orang itu sedang diazab di dalam kuburnya, namun bukan karena masalah besar. Salah satu dari keduanya diazab karena tidak melindungi diri dari percikan air kencingnya. Sedangkan yang satu lagi karena suka mengadu domba.” (HR Bukhari).
Amat tepat pepatah lama yang menyebutkan bahwa lidah atau lisan bagaikan pedang. Jika lisan telah mengibaskan ketajaman mata pedangnya di hati, rasa sakit dan lukanya akan berbekas untuk waktu yang lama.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW mewanti-wanti umatnya untuk tidak sembrono dalam mengumbar lisan. Dalam salah satu hadisnya, beliau memberikan solusi tepat bagi umatnya yang mengaku beriman, agar terhindar dari dosa lisan. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya berkata yang baik. Atau, (jika tidak bisa) lebih baik diam.” (HR Bukhari). Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang disebut muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya dari menyakiti muslim lain.” (HR Bukhari).
Wallahu A’lam

Dimuat di Republika, Senin, 3 September 2007

h1

Kesejahteraan

December 26, 2008

Secara kodrati, manusia senantiasa memimpikan keadaan sejahtera. Kesejahteraan biasa digambarkan sebagai kebahagiaan, ketenangan, dan kenyamanan yang dirasakan selama menjalani hidup dan kehidupan.

Dalam konsep kehidupan bernegara, manusia juga ingin sejahtera dalam berbagai hal. Kesejahteraan tersebut tentu akan dapat diperoleh jika syarat-syaratnya terpenuhi.

Disebutkan dalam Alquran, ”Maka, sembahlah Tuhan pemilik Ka’bah ini (Allah). Yang telah mengaruniakan makanan ketika kamu lapar. Dan, memberikan keamanan ketika kamu takut.” (QS Quraisy [106]: 3-5).

Ayat di atas, secara tidak langsung, menggambarkan tiga syarat utama memperoleh kesejahteraan bernegara. Pertama, setiap elemen negara, rakyat, maupun pemerintah, harus selalu melandasi diri dengan keyakinan beribadah. Karena pada dasarnya, tugas utama manusia di dunia adalah beribadah. ”Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51]: 56).

Kedua, menjalani kehidupan tentunya tidak lepas dari permasalahan memenuhi kebutuhan. Setiap orang memiliki kadar kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidupnya. ”Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadarnya.” (QS Al-Qamar [54]: 49). Ini artinya, segala hal menyangkut ekonomi rakyat harus diutamakan. Karena masalah kemiskinan akan menimbulkan banyak hal buruk, semisal kriminalitas. Atau yang lebih parah, dapat menyebabkan kekafiran.

Dalam sebuah hadis dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah SAW pernah berdoa memohon dijauhkan dari kekafiran dan kemiskinan. Maka, Abu Sa’id al-Khudri bertanya, ”Ya Rasul, apakah kekafiran dan kemiskinan dapat menjadi setara?” Rasul menjawab, ”Ya.” (HR Ibnu Hibban).

Ketiga, terciptanya kondisi yang aman dan situasi yang terkendali. Kebutuhan akan keamanan hidup ini juga merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah SAW, di mana setiap orang harus senantiasa saling menjaga diri dan perilakunya dari menyakiti orang lain. ”Muslim yang sempurna adalah orang yang menjaga lisan dan tangannya dari menyakiti Muslim lainnya.” (HR Bukhari).

Dimuat di Republika, Kamis, 2 Agustus 2007

h1

Harta dan Derma

June 16, 2008

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, di Madinah ada seorang laki-laki dari golongan Anshar yang sangat kaya bernama Abu Thalhah. Ia memiliki sebidang kebun yang bernama Bairuha.

Di dalam kebun itu ada sumur yang airnya segar. Rasulullah SAW kerap kali masuk ke sana untuk minum. Beberapa waktu berselang, turun ayat Alquran, ”Kamu tidak akan mendapatkan kebajikan sebelum kamu memberikan harta yang kamu cintai pada orang lain.” (QS Ali-Imran: 92). Kemudian Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, ”Harta yang paling saya cintai adalah Bairuha, sekarang saya serahkan kepada tuan sebagai derma. Terserah tuan mau diapakan. Ini adalah sedekah yang saya berikan karena Allah SWT.

Saya hanya mengharap kebajikan dan simpanan pahala dari-Nya.” Rasulullah SAW kemudian berkata, ”Sungguh beruntung harta ini.” Beliau mengulang perkataan itu sampai dua kali. Lalu Rasulullah SAW melanjutkan perkataannya, ”Saya mengerti kebajikan yang anda inginkan dari harta ini. Tetapi saya merasa, lebih baik anda bagikan saja harta tersebut kepada kerabat-kerabat anda.” Maka Abu Thalhah memberikan harta itu kepada kerabatnya termasuk keponakan-keponakannya. (HR Muslim).

Hadits Anas bin Malik di atas jelas menyebutkan, ada kebajikan di dalam setiap harta. Namun, tidak serta merta setiap yang memiliki harta akan memperolehnya. Kebajikan itu hanya diperoleh orang yang mendermakan harta yang paling dicintainya kepada orang lain. Orang yang paling berhak menerima derma harta tersebut adalah kerabat terdekat yang kurang mampu, baru kemudian orang lain yang membutuhkan. Karena sangat ironis ketika seseorang hidup bergelimangan harta, namun saudara dekatnya kesulitan hidup.

Allah SWT menyebutkan, berderma adalah kebajikan seseorang yang mengaku beriman, dan menempatkan kerabat dekat sebagai urutan pertama di antara orang-orang yang paling berhak. ”Kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kiamat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan mendermakan harta yang dicintai kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.” (QS Al-Baqarah: 177).

Tak hanya itu, kebajikan berderma harus dipelihara dengan tidak melakukan perbuatan yang menyakiti si penerima. Karena jika dilakukan, sungguh akan sia-sia segala kebaikan yang telah dibangun, dan sekian pahala yang telah terkumpul dari harta yang ia berikan akan hilang. ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghancurkan pahala sedekah yang kalian berikan dengan selalu menyebut-nyebutnya karena sombong dan menyakiti orang lain. (QS Al-Baqarah: 264).

Dimuat di Republika, Senin, 6 Februari 2006

h1

AKU MELIHAT DIRIKU

May 21, 2008

luthfi cool

“Aku ‘kan udah bilang, nggak usah kepengen macam-macam di sana,” ujar Dobi kepadaku sambil bersungut-sungut.

Aku yang sudah diceramahi Dobi dari jam enam sampai jam delapan pagi hanya mampu melirik pasrah. Sejak semalam sampai pagi ini, perutku terasa mual, dan sesekali mulutku mengeluarkan sebagian isi lambung.

“Kamu tuh nggak seharusnya ikutan clubbing di sana. Pakai acara minum-minum segala, lagi!!!” tambah Dobi. Sepertinya kekesalan belum hilang juga dari dirinya.

Aku berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Semalam salah seorang teman kampusku merayakan pesta ulang tahunnya di sebuah diskotik terkemuka di Jakarta.

Diskotik itu biasanya penuh dengan muda-mudi yang keranjingan hura-hura dan terbiasa menghabiskan malam dengan dugem. Bahkan beberapa terlihat sedang berjingkrak-jingkrak sambil sesekali melingkarkan dua tangan mereka di punggung pasangan masing-masing.

Di Embassy, sama seperti diskotik-diskotik lain, hampir semua minuman yang disediakan mengandung alkohol. Beberapa malah kadar alkoholnya lumayan tinggi. Vodka, Scotch, Marguarita, dan nama-nama minuman lain yang aku tidak tahu dari bahasa apa. Belum lagi ingar bingar clubber yang tidak henti-hentinya mengikuti hentakan musik techno dari piringan hitam yang digesek-gesek Disc Jockey sepanjang malam.

Terus apa hubungannya dengan aku?

Ya, semalam aku menghadiri ulang tahun temanku itu. Aku pergi dengan Dobi, teman satu kamarku di asrama mahasiswa. Sebenarnya Dobi enggan berangkat ke sana. Bahkan ia sempat menasihatiku agar aku mengurungkan niat menghadiri undangan itu. Namun, aku tak menggubris Dobi.

Akhirnya, Dobi mengalah karena tak bisa mencegahku. Dan dengan terpaksa ia tetap ikut bersamaku. Untuk mengawasi dan menjagaku, katanya.

Di diskotik itu, aku habis-habisan eksploitasi energiku buat gedek-gedek badan dan kepala sepanjang malam. Sesekali aku istirahat, sambil beberapa temanku mencekoki minuman-minuman dengan rasa dan bau yang aneh ke dalam kerongkonganku. Aku hanya ingat, Dobi melotot kepadaku ketika itu.

“Eh, Dobi! Lo tu berisik, tau!” cercaan Piet pada Dobi mengembalikanku kepada pikiranku saat ini. “Itu tuh biasa, lagi. Namanya juga baru pertama. Lo aja yang norak,” umpat Piet.

Piet adalah teman satu kamarku juga. Dobi dan Piet berbeda sifat dan kepribadian. Namun entah kenapa, mereka tetap betah tinggal bersama.

“Piet, kalau bukan karena kamu, dia nggak akan jadi lemas kayak gini,” bantah Dobi tak terima. “Dia pergi ke sana juga karena kamu yang dorong-dorong terus ‘kan?” tambah Dobi.

Pikiranku kembali menerawang ke alam delapan jam lalu dan menemukan ingatan baru. Ketika Dobi melarangku semalam, Piet membujukku untuk tetap berangkat. Terpikat oleh kesenangan seperti yang dibilang Piet, aku jadi makin tertarik. Akhirnya, aku memaksa untuk tetap pergi.

“Udah, lain kali Piet nggak usah kamu dengerin,” ujar Dobi sambil memijit-mijit keningku.

“Hahhhh, terserah!!!” jawab Piet dari sudut kamar sambil menyeringai ke arah Dobi.

Mendengar umpatan dan pertengkaran mereka, perutku makin mual. Tablet sebesar jempol kaki yang katanya dapat menghilangkan segala yang kuderita tak mampu bekerja cepat sebagaimana iklannya di TV. Akhirnya, aku memilih untuk memejamkan mata dan mengosongkan pikiranku. Tidur.

***

Telepon genggamku menjerit ketika sepenggal pesan singkat memaksa masuk ke memori elektronik mahal yang kubeli di Pondok Indah Mall itu.

“SLM. D’MHN KSDIAAN RKAN2 A.D.K. UTK DPT HDR DI ACR PNGAJIAN BLNN USTADZ RHMAN HR INI BA’DA ISYA. WSLM”

Aku tersenyum setelah membaca SMS itu. Ternyata teman-teman lamaku di organisasi dulu masih ingat denganku, dan kini mereka mengundangku untuk hadir di salah satu kegiatan yang mereka buat.

Aku memang pernah aktif di sebuah lembaga kerohanian Islam di kampusku pada semester-semester awal. A.D.K., aktivis dakwah kampus, demikian mereka terbiasa menyebut setiap anggotanya. Atas anjuran Dobi-lah, aku memutuskan bergabung dengan lembaga itu. Ketika itu, aku merasa tenang dan menikmati segala aktifitasku.

Beberapa waktu belakangan, aku memang malas untuk aktif di kegiatan manapun. Setelah Piet datang di kampusku dan tinggal satu kamar denganku dan Dobi, teman-temanku bilang aku banyak mengalami perubahan.

“Ahhh….!!!” Aku menghela napas sesaat sambil menimbang-nimbang apakah aku akan pergi atau tidak. Sambil melemparkan tasku ke atas ranjang, aku mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Mungkin mandi bisa menenangkan pikiran dan memberikan jawaban padaku.

Aku baru saja selesai mandi dan Piet sedang terkulai menikmati kebiasaannya tidur menjelang maghrib untuk bangun tengah malam menonton sepak bola, ketika jam dinding di kamarku berbunyi sebanyak enam kali. Dobi masih asyik mengaji di sudut ruangan.

Selama air mengaliri kepalaku ketika mandi tadi, kutemukan keputusan untuk berangkat ke pengajian Ustadz Rahman dan mengajak Dobi. Aku tak mengajak Piet karena tidak ingin ia terganggu. Lagipula, mana mau dia ikut kegiatan-kegiatan seperti itu. Akhirnya aku tinggalkan ia sendiri di kamar sementara aku dan Dobi pergi.

“Assalamu’alaikum. Apa kabar, akhi? Antum sendirian aja ke sini?” Amir, salah seorang ADK yang kukenal, menyapaku begitu aku tiba.

“Berdua sama teman sekamar saya. Namanya Dobi,” kataku sambil menunjuk ke arah sebelah kanan. Dobi tersenyum.

Sambil mengernyitkan kening, Amir tersenyum dengan mimik wajah yang aneh ke arahku. “Hah… berdua?? Oh, ya udah. Masuk aja ke dalam, ya!” Ia mempersilakanku masuk sambil geleng-geleng kepala.

Di dalam, peserta sudah ramai dan hampir memenuhi setiap penjuru ruangan. Aku mendengarkan setiap perkataan Ustadz Rahman dengan seksama. Dobi melihat ke arahku sambil menyunggingkan sedikit senyum. Barangkali ia melihat sesuatu yang kontras antara aku di pengajian ini dengan aku yang mabuk malam kemarin.

Terlalu lama duduk bersila di atas karpet membuat kakiku terasa pegal. Akhirnya kugerakkan kakiku ke kanan dan ke kiri sedikit-sedikit agar terasa lebih nyaman. Ketika aku menoleh ke kiri, aku kaget bukan kepalang. Piet berada tepat setengah meter di samping bahuku. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, darimana ia tahu aku ikut pengajian ini.

“Kenapa, kaget ya?” Piet tiba-tiba berkata seperti membaca pikiranku.

“Iya, sedikit. Eh, darimana kamu tahu aku di sini?”

“Ya tahu, dong. Meskipun lo pergi gak bilang-bilang,” ujar Piet ber-lo-lo-gue-gue.

Raut muka Dobi berubah ketika melihat Piet ada di ruangan itu. Dobi seperti menangkap gelagat buruk dari kehadiran Piet. Aku hanya ringan menanggapi mereka.

“Eh, bete nih, gue. Balik aja, yuk!” Piet berkata pelan-pelan seperti berbisik.

Melihat Piet yang ingin pulang seperti gayung bersambut bagiku. Semenjak kakiku pegal tadi, aku sudah tidak betah. Namun karena melihat Dobi yang begitu asyik menyimak, aku jadi urung.

“Udah, biarin aja si Dobi. Gue punya tempat asyik buat nongkrong nih,” Piet merajuk.

Aku pun keluar dengan Piet dari tempat itu tanpa memedulikan Dobi. Dan tahu-tahu aku telah ada di sebuah bangunan dua lantai dengan lampu-lampu kuning temaram. Lalu aku sadar, aku berada di sebuah cafe.

Piet terus menarik tanganku menuju ke dalam. Lalu meluncur ke arah toilet yang berada di bagian belakang. Di tempat yang cukup sunyi dan jauh dari hiruk pikuk orang itu, aku berpapasan dengan seorang wanita yang cukup menawan. Dilihat dari pakaian seragam yang dikenakannya, dapat dipastikan ia seorang waitress.

Tiba-tiba saja Piet membisikkan sesuatu yang tidak pernah kupikirkan akan dikatakannya padaku.

“Kau harus dapatkan dia malam ini.” Aksen bicara Piet tiba-tiba berubah menjadi aneh. Dan kini ia tidak lagi ber-lo-lo-gue-gue seperti biasa.

“Aku tidak bisa, Piet. Itu dosa”

“Kau akan menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin tidak datang lagi padamu.” Piet semakin gencar membujukku. “Kau suka dia, ‘kan?”

Pikiran-pikiran buruk mulai berkelebatan di otakku. Aku mulai terpengaruh iming-iming kesenangan yang digambarkan Piet jika aku melakukan perbuatan itu.

“Jangan mau dibodohi. Kamu orang terpelajar. Kamu tahu betapa berat dosa orang yang melakukan perbuatan itu.” Tiba-tiba Dobi muncul di ujung pintu toilet sambil berteriak ke arahku.

Namun seperti biasa nasihat-nasihat Dobi kuabaikan dan aku menurut pada Piet.

Perbuatan dosa itu akhirnya terjadi juga. Aku menarik wanita itu dan memaksanya berbuat sesuatu yang hanya pantas dilakukan suami istri. Wanita itu menangis mengeluarkan suara dari mulutnya yang kusumbat dengan saputangan. Meratapi nasibnya yang naas.

Piet tertawa terbahak-bahak. Sementara Dobi menangis sejadi-jadinya melihat imanku goyah. Bahkan Dobi memuntahkan sumpah serapah yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya akan keluar dari mulut seorang yang santun seperti dia. Mungkin ia sangat kecewa kepadaku.

“Kau telah berbuat sesuatu yang akan merusak reputasimu. Jika peristiwa ini bocor, kau akan di penjara,” Piet berbisik lagi kepadaku. “Hilangkan bukti! Bunuh saja wanita itu!”

Dobi menjerit dengan keras ke arahku, “Jangan! Kau tidak akan diampuni jika kau tambah daftar dosa besarmu dengan membunuh.”

“Tidak. Aku tidak mau.” ujarku singkat.

“Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang melakukannya.” kata Piet.

Piet mengambil sebuah batu dan memecahkan cermin yang ada di depannya. Lalu ia menusukkan pecahan cermin tajam ke tubuh wanita itu sampai ia mati. Piet kembali menampakkan gigi-giginya, menyeringai dan tertawa.

Aku terbelalak melihat itu semua. Namun yang membuatku takut, di bayangan cermin aku tidak melihat wajah Piet. Aku… aku melihat sosok lain yang sangat ku kenal selama ini.

Aku… melihat diriku… Aku melihat pakaianku berlumuran darah. Aku melihat diriku tertawa terbahak-bahak lalu menangis sejadi-jadinya.

Aula Putih, Darus-Sunnah

26 Nopember 2006